KONTRIBUSI NYATA ASN DALAM MENJAGA LINGKUNGAN

KONTRIBUSI NYATA ASN DALAM MENJAGA LINGKUNGAN 
 Oleh : Firdausyi Zulkarnia, S.Hum 

 Jika diibaratkan sebuah pion catur, ASN merupakan pion-pion penting yang berperan dalam masyarakat untuk menjadi agen perubahan (agent of change). ASN bukan hanya bagian-bagian yang dituntut untuk memiliki integritas yang tinggi tapi ASN harus peduli dan cekatan dalam menangkap masalah-masalah dalam masyarakat hingga mencari solusi dari masalah tersebut khususnya dalam hal lingkungan. ASN harus bersinergi antar lembaga pemerintahan dalam menjaga keindahan, ketentraman dan kelestarian di negeri kita Indonesia. 

Di Indonesia masalah kebersihan lingkungan masih menjadi tugas besar bagi seluruh masyarakat Indonesia khususnya ASN yang menjadi tonggak pelayanan publik masyarakat. Banyak sekali masalah pencemaran air, udara dan sampah yang menumpuk sehingga menimbulkan bencana banjir, longsor maupun kekeringan. Hal ini harus lebih diperhatikan memingat bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya sehingga rawan sekali mengalami kerusakan lingkungan. 

Izinkan artikel ini mengutip sedikit sepatah kata yang indah dari Rasulullah SAW, teladan akbar yang luar biasa bagi umat manusia. Dari kitab Ihya Ulumudiin yang dikarang oleh Imam Al-Ghazali yang berbunyi “An-Nadzofatu minal Iman” yang berarti bahwa “Kebersihan sebagian dari Iman”. Bahwa sesungguhnya sebagian dari iman kita sebagai umat manusia adalah berasal dari kebersihan. Kesempurnaan iman manusia harus peduli dan memperhatikan terhadap kebersihan. Dalam hal ini ASN harus memiliki iman yang kuat dengan memperhatikan tingkat ke religiusan diri khususnya dalam hal kebersihan diri maupun lingkungan sekitar. 

Sebelum membahas jauh tentang peran ASN dalam kebersihan, ada kutipan yang harus diketahui sebagai prinsip hidup yang diri ASN di seluruh tanah air. Dikutip dari buku Anthropology from a Pragmatic Point of View yang diterbitkan oleh Cambridge University Press karya Immanuel Kant bahwa "A man is not clean who is neglectful of cleanliness” yang bermakna "Kebersihan menunjukkan rasa hormat terhadap diri sendiri”. Rasa hormat sebagai Aparatur Sipil Negara yang berintegritas harus mengedepankan kebersihan, bukan hanya kebersihan diri akan tetapi juga lingkungan. 

Pada tahun 2024, Estonia menjadi negara terbersih di dunia dengan nilai 75.7 oleh EPI (Environmental Performance Index), lembaga yang menilai kinerja lingkungan di dunia. Negara kecil di Eropa Utara ini berhasil bersinergi antara pemerintah dan masyarakat sehingga sempurna dalam pengelolaan lingkungan energi terbarukan dan keaneragaman hayati. Banyaknya hutan lebat sebanyak 50% berhasil menjaga kebersihan lingkungan dan udara sehingga menjadi negara terbersih nomer satu di dunia.

Pada saat ini, meskipun banyak program yang dibentuk oleh pemerintah masih banyak pihak-pihak yang tidak sepenuhnya sadar bahwa sebagai ASN harus memprioritaskan isu-isu lingkungan yang ada bukan hanya sebagai tugas tambahan saja. Hal ini juga ditambah dengan fasilitas yang kurang memadai dan lingkungan yang tidak terjangkau oleh pemerintah karena faktor geografis. Maka dari itu Kerjasama antar ASN

Sebagai ASN, kita harus membuka mata dan pengetahuan kita dengan melihat negara-negara yang bisa menjadi percontohan dan sebagai inspirasi bagi kita semua dan kemudian di realisasikan di negara sendiri. Estonia sendiri bersinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam program hutan lebat sehingga menjadi negara dengan udara bersih di dunia. 

ASN sebagai agen perubahan lingkungan harus memiliki jiwa mengabdi kepada masyarakat dengan sepenuh hati dan memiliki program-program untuk memberikan pelayanan baik kepada masyarakat. Hal ini diimbangi dengan memiliki program maupun proyek-proyek yang ramah lingkungan dengan pengawasan yang berkelanjutan bukan hanya sebagai formalitas saja. 

Dalam kitab Sunan Ibn Majah, Hadis no. 3058, terdapat redaksi hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi “ ِمَن ْ أ َحْيَا أ َرْضًا مَ يْتَة ً فَهِي َ ل َهُ، و َ ل َه ُ أ َجْر ٌ فِيمَ ا أ ُ كِل َ مِنْهَ ا مِن ْ طَ يْر ٍ أ َو ْ سَبُع ٍ أ َو ٍ hadis ini bermakna "Barang siapa yang menghidupkan tanah yang mati, maka ”انْسَ ان baginya pahala. Dan apa yang dimakan binatang darinya, maka itu baginya pahala sedekah". Hal ini juga sejalan dengan program Penguatan Ekoteologi yang digagas oleh bapak Menteri Agama, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar dengan menggerakkan seluruh ASN Kementerian Agama untuk menanam bibit pohon di kantor, tempat ibadah, sekolah, dan tempat lainnya. Gerakan menamam bibit pohon dapat mejadi kegiatan rutin, misalnya peringatan Hari Nasional, peringatan hari lingkungan, pelantikan maupun kegiatan lainnya. Setiap ASN wajib menanam bibit pohon dan merawatnya sebagai bentuk aktualisasi dan kontribusi dalam merawat lingkungan. 

Selain itu Gerakan ASN Bebas sampah plastik juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti harus wajib membawa botol minum pribadi, membawa makanan dari rumah bahkan diwajibkan untuk tidak menyediakan minum dan makanan kemasan dalam rapat maupun kegiatan lain. Gerakan tersebut terlihat sepele, akan tetapi jika dilaksanakan oleh seluruh ASN di Indonesia sangat berdampak dan berpengaruh terhadap kebersihan lingkungan di Indonesia. Sebagai ASN sebagai penggerak di masyarakat harus giat melaksanakan penyuluhan-penyuluhan kepada masyarakat baik itu sektor pendidikan, kehutana, pertanian dan kelautan dalam memberikan pengarahan dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya cinta lingkungan, penanaman pohon, atau pemilahan sampah yang baik sebagai bentuk konkrit kontribusi sebagai ASN. 

Pemilahan sampah yang berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle) harus gencar diinformasikan oleh agent of change kepada masyarakat. Hal ini mencakup bagaimana cara pengolahan sampah, keuntungan pengelohan sampah dan dampak buruk apabila tidak mengelolah sampah dengan baik, seperti contoh diare yang disebabkan oleh virus Rotavirus dan Salmonella typhi yang bisa menyebabkan deman tifoid, demam berdarah hingga penyakit membahayakan lainnya yang bisa menyebabkan kematian. '

Selain itu, kesadaran masyarakat juga harus dibangun dan ditanamkan dalam diri masing-masing sehingga memiliki kesadaran penuh dalam sadar akan kebersihan lingkungan. Penggunaan fasilitas-fasilitas yang efektif juga dapat membantu dalam menumbuhkan cinta lingkulan dalam masyarakat, seperti contoh membagikan spanduk, poster, video pendek di media sosial supaya mudah dipahami dan diingat oleh masyarakat. 

Mari melihat inovasi-inovasi ASN yang menunjukkan ASN peduli terhadap lingkungan. Pertama, Kota Surabaya yang terkenal dengan program penukaran sampah dengan tiket bus transportasi daerah, hal ini inisiatif ASN dalam mensinergi antara masyarakat dan pemerintah untuk peduli terhadap lingkungan. Kedua, Kabupaten Banyuwangi dengan program Green dan Clean-nya yang melibatkan ASN dalam mendampingi masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Ketiga, Provinsi DKI Jakarta mengkampanyekan “Kantor Bebas Plastik” dengan cara meminta seluruh ASN Provinsi DKI Jakarta untuk tidak menggunakan botol kemasan maupun makanan kemasan dengan cara dianjukan membawa makanan dari rumah dan botol tumbler masing-masing. 

Inovasi-inovasi ini menunjukkan bahwa ASN memiliki kontribusi yang besar dalam menjaga kelestarian lingkungan dengan memberikan contoh nyata kepada masyarakat bahwa dengan hal-hal kecil dapat memberikan dampak besar untuk negara baik sekarang maupun masa yang akan datang. 

Peran ASN dalam menjaga lingkungan bukan hanya slogan semata, akan tetapi panggilan moral dan bentuk profesionalitas dalam menjaga kelestarian lingkungan untuk masa mendatang. Sebagai pelayan publik dan penggerak kebijakan, ASN memiliki tanggung jawab besar dalam melaksanakan dan mengawasi program-program pemerintah untuk penghijauan dunia terealisasi dengan baik. 

Memulai dari hal-hal kecil seperti penanaman satu pohon, mengurangi sampah plastik, dan menjadi contoh utama dalam masyarakat untuk menjadi Indonesia lebih hijau, bersih dan sehat. 

 DAFTAR PUSTAKA 

 Al-Ghazali. (2002). Ihya Ulumuddin (Vol. 1). Dar Al-Minhaj. 

Kant, I. (1798). Anthropology from a Pragmatic Point of View. (Translated edition: Cambridge University Press, 2006). 

Sunan Ibn Majah, Hadis no. 3058

Komentar